Internet Sebagai Ujung Tombak Media!

Lupa, agaknya sudah menjadi kebiasaan budaya di kalangan masyarakat Indonesia. Apa pasal? Ketika masyarakat sedang ada isu BBM, media mengeluarkan lagi berita yang lain, mungkin dengan pemberitaan yang baru akan membelokkan isu yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Di satu sisi banyak masyarakat yang membutuhkan, di sisi lain malah banyak masyarakat ‘dilenakan’ dengan acara-acara televisi seperti halnya sinetron gak mutu, acara-acara selebritis gak jelas, iklan kebakaran, dsb.
Naif sekali, tapi memang itulah hal yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Coba anda ingat kembali tentang kasus 1998, lepasnya Timor Timur dari pangkuan ibu pertiwi, supersemar yang sejak jaman saya SMP sudah menjadi polemik, bom bali, tragedi 11 september di WTC yang konon dilakukan oleh CIA, Mossad, dan ‘sepertinya’ mantan presiden Italia, Fransesco Cossiga. Atau tentang ini : “Apakah di WTC memang ada banyak orang ketika terjadi ledakan?”. Banyak sekali berita yang terlupakan atau bisa jadi malah dilupakan sama sekali – masyarakat ingin hidup tenang dan tidak diganggu.

Disini, media menjadi ujung tombak. Televisi, radio, surat kabar, dan internet bisa membantu anda mencari berita yang lebih cepat dan akurat. Coba anda buka halaman dibawah ini.
• Dalang Black September adalah Mossad dan CIA
• Tentang Prabowo Subianto
• Sintong: kenalkah anda siapa dia?
Keempat media tersebut adalah media yang ketika dibaca, dilihat, atau didengarkan saat itu juga, maka kita akan paham dan mengerti, tapi bagaimana dengan proses melupakan masyarakat terhadap isu tersebut? Dengan adanya media alternatif terakhir-internet, kita bisa membaca ini-itu, memberikan komentar ini-itu yang bisa jadi akan membuka para pemimpin kita untuk bertindak lebih rasional dan peduli terhadap rakyatnya. Tapi, apa bisa dikata, tarif internet masih sangat mahal, minat baca yang akan berujung kepada tingkat pendidikan atau kurikulum pendidikan, agaknya menjadi ganjalan di bagian ini. Apalagi ketika sudah membicarakan masalah internet, yang masyarakat pahami bahwa internet adalah sarana memuaskan hawa nafsu-mungkin nomor dua setelah lokalisasi, internet itu mahal, internet itu warnet, game center, dll.
Padahal, internet bisa jadi ujung tombak media memberitakan yang sesungguhnya. Dengan adanya internet, kita tidak perlu lagi mempedulikan adanya salah satu pihak yang menunggangi salah satu media. Televisi? Radio? That’s ok, ga masalah, tapi internet? Siapa yang bisa menunggangi? Bisa sih, tapi kemungkinan amat sangat kecil, kalo persepsi saya sekitar 3%. Mengapa demikian? Berita bisa diakses dimana saja, kapan saja, atau saya lebih menekankan sebenarnya kepada opini publik. Melalui internet, opini publik bisa secara live ditampilkan. Jika seumpama, situs detik.com, kompas.com, liputan6.com, atau metrotvnews.com sudah ditunggangi oleh kelompok-kelompok berkocek tebal yang dengannya memiliki kekuasaan yang dengannya bisa memerintah situs-situs sekeliber mereka, saya yakin, masih ada situs lain yang berpotensi untuk memberitakan. Masak iya google di blok? Yahoo dio blok? Jika mungkin, coba masuk ke sini, kayaknya ga di blok deh, kalo di blok juga saya juga berencana untuk membeli domain sendiri, wekeke..
Ok, intinya disini media, internet khususnya, menjadi ujung tombak pemberitaan ke masyarakat. Setidaknya, budaya lupa masyarakat akan berita bisa dikikis dengan mereka melihat berita melalui akses internet di rumah-rumah mereka.
Bagaimana dengan penggunaan? Itu yang masih menjadi dilema. Bahkan saya yakin, tidak lebih dari 20% guru-guru di Indonesia masih buta akan internet, setidaknya 20% itu mencakup mereka. Saya jadi ingat, kang dariman pernah mengatakan kalo dia pernah disuruh bikin blog(percakapan malam sebelum postingan ini ditulis), tapi yang menjadi masalah disana, bagaimana dengan kelangsungan blog itu sendiri? Wong yang nulis dan bikin artikel itu dia sendiri kok. Berarti, oleh orang yang mempekerjakan mas dariman untuk membuat blog itu hanya menjadikan internet sebagai formalitas dan akal-akalan dia sebagai dosen pengajar(CMIIW) – bahwa dia sudah memiliki blog sendiri. Saya tidak menyalahkan, lha wong materi pendidikan tentang pengenalan internet yang kalo tidak salah bernama mata pelajaran TIK saja baru digulirkan beberapa tahun lalu (3 tahun ini ya di SMP,SMA? CMIIW). Okelah, anggap saja pola pendidikan di Indonesia sudah mulai mengalami kemajuan, khusnudzon saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: