Sejarah Bendera Merah Putih

Berdasarkan kajian seorang sejarahwan Prof. H. Muhammad Yamin, jejak sejarah Merah-Putih di mulai sejak 6.000 tahun yang lalu, di mana bukti sejarah menunjukkan bahwa nenek moyang kita telah melakukan pemujaan terhadap Matahari dan Bulan. Matahari di wakili warna Merah, dan Bulan di lambangkan dengan warna Putih.

Kajian Prof. H. Muhammad Yamin menunjukkan cukup banyak bukti untuk membuktikan teorinya. Bila teorinya tentang pemujaan Matahari dan Rembulan yang kemudian menciptakan derivate warna Merah dan Putih sejak 6.000 tahun yang lalu merupakan teori yang universal, setidaknya beliau mempunyai bukti yang membumi mengenai kehadiran Merah-Putih di bumi Indonesia.

Adanya ukiran pada dinding Candi Borobudur (dibangun pada awal abad ke- 9) menjadi salah-satu bukti awal beliau, di mana pada ukiran tersebut menggambarkan tiga orang hulubalang membawa umbul-umbul berwarna gelap dan terang, di duga melambangkan warna Merah dan Putih. Keterangan untuk ukiran itu menyebutnya sebagai Pataka atau Bendera. Catatan-catatan lain sekitar Borobudur juga sering menyebut bunga Tunjung Mabang (Merah) dan Tunjung Maputeh (Putih). Ukiran yang sama juga tampak di Candi Mendut, tidak jauh Candi Borobudur, yang kurang lebih bertarikh sama.

Dari bukti ukiran Candi Borobudur ini, Prof. H. Muhammad Yamin dengan rajin mengumpulkan banyak bukti sejarah lain yang dapat di kaitkan dengan pemujaan terhadap lambang, warna Merah dan Putih di setiap celah budaya Nusantara. Di bekas kerajaan Sriwijaya tampak pula berbagai peninggalan dengan unsur-unsur warna Merah dan Putih.

Perlawanan rakyat yang di pimpin oleh Pangeran Diponegoro pada abad ke-19 di mulai dengan barisan rakyat yang mengibarkan umbul-umbul Merah-Putih berkibar di mana-mana. Rakyat berkeyakinan bahwa Merah-Putih adalah pelindung mereka dari segala marabahaya. Pada abad ke-19 itu pula, para pemimpin dan pengikut gerakkan Paderi di Sumatera Barat banyak yang mengenakan sorban berwarna Merah dengan jubah berwarna Putih, untuk menandai gerakan perlawanan kaum Paderi terhadap Belanda.

Pada tahun 1920 di Negeri Belanda Bendera Merah-Putih di kibarkan oleh Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia (Indische Vereeniging) untuk menyatakan cita-cita Indonesia Merdeka. Secara sederhana ketika itu dinyatakan bahwa Merah berarti berani, sedang Putih melambangkan kesucian. Artinya keberanian di atas kesucian. Partai Nasional Indonesia yang di dirikan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1927 juga menggunakan lambang bendera Merah-Putih dan gambar kepala banteng ditengahnya. Sebelumnya, bendera Merah-Putih dengan gambar kepala kerbau pernah pula di pakai oleh Perhimpunan Indonesia di Negeri Belanda tahun 1922, seperti terlihat pada salah satu dokumen yang di simpan oleh Dr. Mohammad Hatta.
Tidak heran bila pada tanggal 28 Oktober 1928 bendera Merah-Putih di kibarakan oleh para pemuda sebagai Bendera Kebangsaan. Semula bendera Merah-Putih di rencanakan akan memakai gambar Garuda Rajawali terbang di tengahnya. Tetapi, kemudian di putuskan untuk memakai lambang burung Garuda Rajawali itu secara terpisah. Kelak lambang burung Garuda Rajawali inipun di bakukan sebagai lambang Negara, lengkap dengan Amsal Tantular yang tertera pada pita di cengkraman Garuda yang berbunyi : Bhinneka Tunggal Ika.

Pada tanggal 16 Agustus 1945, beberapa pemuda mendatangi Bung Karno dan kemudian membawa pergi ke Rengasdengklok. Ibu Fatmawati dan Guntur yang masih bayi juga di bawa serta. Bagi para pemuda, tindakkan itu dilakukan agar Bung Karno terbebas dari tekanan politik dan memahami realitas perjuangan serta segera menyatakan kemerdekaan Indonesia. Kejadian ini terjadi di sebabkan oleh sikap Bung Karno yang tetap memilih jalan negoisasi yang selama ini telah di rintisnya bersama pemimpin bangsa.

Di Rengasdengklok, Bung Karno dan Bung Hatta di tempatkan di Rumah Djiauw Kie Siong yang di pinjam oleh para pemuda, tidak jauh dari Markas PETA.
Di luar para pemuda telah meminta Wedana menyiapkan upacara di halaman, dan mengumpulkan rakyat di depan Markas PETA. Upacara yang di persiapkan para pemuda itu digelar untuk menjadi panggung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Siang harinya dilakukan upacara pengibaran bendera Merah-Putih, di pimpin oleh Wedana Soedjono. Tetapi, karena upacara itu hanya di hadiri oleh sedikit orang, para pemuda mengajak rakyat berjalan menuju alun-alun di depan kawedanaan. Masyarakat yang berkumpul di alun-alun menjadi lebih banyak di pimpin oleh Soeradji, Komandan PETA, bendera Merah-Putih dikibarkan di sana sekali lagi. Para pemuda bermaksud “menahan” Bung Karno di Rengasdengklok malam itu “penahanan” itu hendak dilakukan karena Bung Karno tetap tidak bersedia memproklamasikan kemerdekaan di Rengasdengklok.

Apabila hal itu terjadi, sejarah Indonesia barangkali akan mencatat hal lain, di sinilah peran Ibu Fatmawati harus di perhitungkan dalam sejarah perjuangan. Beliau menunjukan kondisi bayi Guntur yang sudah tampak lelah. Dengan tutur lembut dan halus, Ibu Fatmawati meminta pengertian pemuda pejuang untuk mengizinkan mereka kembali ke Jakarta malam hari itu juga.

Pada saat tiba kembali di Jakarta, lewat tengah malam Bung Karno mengundang pertemuan di rumah laksamana Maeda, Panglima Besar Angkatan Laut Jepang di Jawa. Sebelumnya Bung Karno, Bung Hatta dan Laksamana Maeda telah mengadakan pertemuan dengan Jenderal Yamamoto, Kepala Pemerintah Militer Jepang.

Pada pertemuan dini hari di rumah Maeda tersebut, naskah proklamasi dirumuskan. Beberapa anggota PPKI hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain. Mr. Achmad Soebarjo Radjiman, Dr Sam Ratulangi, Prof Soepomo, Mr Latuharharry, Dr Boentaran, Mr Iwa Kusumasumantri, sedangkan dari pemuda hadir antara lain, Chaerul Saleh, BM Diah, dan Sukarni. Bung Karno sudah menyiapkan naskah ringkas yang ditulis tangan. Terjadi perdebatan seru, ada yang mengatakan naskah itu tidak revolusioner. Adapula yang mengatakan bahwa pernyataan itu sangat abstrak dan tidak ada isinya.

Mengingat bahwa pekerjaan ini harus selesai sebelum fajar menyingsing. Mereka kemudian menyepakati naskah yang diusulkan Bung Karno dengan beberapa perubahan ringan. Naskah tersebut lalu diketik oleh Sajuti Melik, seorang pemuda pejuang yang baru saja di bebaskan oleh kempetai dari tahanan di Semarang. Sajuti pada saat itu adalah suami dari SK Trimurti. Nama Melik hanyalah panggilan, karena ketika itu ada dua yang bernama Sajuti. Untuk membedakan, satu di panggil Sajuti Melok, yang lain Sajuti Melik.

Keesokan paginya, 17 Agustus 1945, beberapa pemimpin Bangsa Indonesia berkumpul di rumah Bung Karno. SK Trimurti yang hadir disitu, diminta untuk ikut mengibarkan bendera sebagai representasi perempuan dalam perjuangan Bangsa. Akan tetapi dia menolak karena tidak cukup berjasa untuk memperoleh kehormatan tersebut. Ia hanya membawa bendera yang masih terlipat untuk diserahkan kepada pengibar bendera, setelah itu beliau berdiri disamping Ibu Fatmawati.
Bendera Merah-Putih yang dijahit oleh Ibu Fatmawati kemudian diikatkan ke tali pengerek. Tiang bambu dihalaman rumah Jalan Pegangsaan Timur 56 kini Jalan Proklamasi No. 56 itu sebetulnya terlalu pendek untuk bendera yang berukuran 2×3 meter itu. Pemuda Suhud lalu memegang bendera tersebut, lalu dikerek oleh Pemuda Latief Hendraningrat yang berseragam PETA.

Semua yang hadir mengiringi kibaran Merah-Putih dengan menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Tak ada yang memimpin lagu, sehingga suara yang dihasilkan terdengar sumbang. Suara sumbang juga disebabkan emosi yang meluap dari para hadirin. Semua terhenyak memandang Merah-Putih telah berkibar gagah dipuncak tiang bambu. Dalam suasana yang mencekam itu, tepat pukul 10 pagi. Bung Karno mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari saku jasnya, dan kemudian membaca naskah pendek yang telah diketik dan dibubuhi beberapa coretan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: